MAKALAH AGAMA ISLAM SIDIQ

KATA PENGANTAR

 

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

            Segala  puji  hanya  milik  Allah SWT.  Shalawat  dan  salam  selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW.  Berkat  limpahan  dan rahmat-Nya penyusun  mampu  menyelesaikan  tugas  makalah ini guna memenuhi tugas  akhir Agama Islam.

           Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua, Bapak Suriansayah selaku guru kami. Sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi dapat teratasi

            Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang sifat – sifat terpuji terutama sidiq yang penulis sajikan. Yang penulis sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, referensi, dan berita.

            Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para siswa dan siswi SMAN 2 Palangkaraya.

           Akhir kata, Saya sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu,  kepada  pembaca  penulis  meminta kritik dan saran demi perbaikan dan masukan untuk lebih baik kedepannya.

 

 

 

                                                              

                                                                                                            Palangkaraya, 12 November 2012

                                                                                                                                    Penulis

 

 

                                                                                                                          Eka Putri Yunita Sari

      I.        PENDAHULUAN

  1. A.   LATAR BELAKANG

Siddiq merupakan hakikat kebaikan yang memiliki dimensi yang luas, karena mencakup segenap aspek keislaman. Hal ini tergambar dalam firman Allah SWT: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.Mereka itulah orang-orang yang benar imannya (yakni bersifat siddiq); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. ” (QS Al-Baqarah: 177)

 

Ayat ini digambarkan dimensi yang dicakupi oleh siddiq yaitu meliputi keimanan, menginfakkan harta yang dicintai, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji, bersabar dalam kesulitan, dll. Karena itulah, dalam ayat lain, Allah SWT memerintahkan kita untuk senantiasa bersama-sama para shiddiqin: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (siddiq).” (QS At- Taubah: 119)

 

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menyebutkan tiga orang RasulNya yang memiliki sifat siddiq ini. Yang pertama adalah Nabi Ibrahim AS. Allah memujinya karena memiliki sifat ini: “Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al-Kitab (Al-Qur’an) ini.Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi. “(QS Maryam: 41)

 

Rasul yang kedua adalah Nabi Idris AS. Allah juga memujinya dalam Al-Qur’an karena memiliki sifat siddiq. Allah berfirman: “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al-Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. “(QS Maryam: 56)

 

Sedangkan Nya yang ketiga adalah Nabi Yusuf AS. Ia membuktikan keimanannya dengan menolak ajakan Zulaikha untuk berzina, meskipun disertai dengan ancaman. FirmanNya: “Raja berkata (kepada wanita-wanita itu):” Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?” Mereka berkata: Maha Sempurna Allah, kami tidak mengetahui sesuatu keburukan darinya. Berkata istri Al-Aziz: “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.” (QS Yusuf: 51).

 

  1. B.   RUMUSAN MASALAH

1. Pengertian Siddiq ?

2. Hadis – hadis yang berkaitan dengan Sifat Siddiq ?

3. Kedudukan orang yang memiliki sifat Siddiq ?

4. Ciri – ciri orang yang bersifat Siddiq ?

5. Cara mencapai sifat Siddiq ?

6. Ruang lingkup siddiq ?

 

  1. C.   TUJUAN

                  Karena, masih belum banyak mengetahui lebih dalam tentang sifat  siddiq. Dan agar para pembaca dapat mengerti lebih dalam tentang sifat Siddiq.

 

  1. D.    BATASAN MASALAH

Batasan Masalah dari makalah ini adalah :

  1. Untuk mengetahui pengertian dari Siddiq
  2. Untuk mengetahui Hadis yang berkaitan dengan sifat Siddiq.
  3. Untuk mengetahui bagaimana kedudukan orang yang memilik sifat Siddiq.
  4. Untuk mengetahui ciri – ciri orang yang bersifat Siddiq.
  5. Untuk mengetahui bagaimana cara mencapai sifat Siddiq.
  6. Untuk mnegetahui apa saja ruang lingkup siddiq.

 

    II.        PEMBAHASAN

  1. PENGERTIAN SIDDIQ

 

Dari segi bahasa, siddiq berasal dari kata ‘shadaqa’ yang memiliki beberapa arti yang satu sama lain saling melengkapi. Bertentangan dengan siddiq adalah kadzib (dusta). Di antara arti siddiq adalah benar, jujur ​​/ dapat dipercaya, ikhlas, tulus, keutamaan, kebaikan, dan kesungguhan. Namun siddiq di sini lebih menjurus kepada sebuah sikap membenarkan sesuatu yang datang dari Allah SWT dan Rasulullah SAW yang timbul dari rasa dan naluri keimanan yang mendalam.

 

  1.  HADIS-HADIS TENTANG SIFAT SIDDIQ

Imam Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menyebutkan 6 hadis dalam bab siddiq. Dari 6 hadits tersebut dapat disimpulkan hal-hal berikut:

 

1. Bahwa siddiq itu memimpin seseorang menuju kebaikan, dan kebaikan akan membawanya ke surga. Hal ini digambarkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits berikut: “Dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah SAW bersabda: ” Sesungguhnya siddiq itu memimpin kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan membawanya ke dalam surga …”

 

2. Sementara itu lawan dari siddiq, yaitu kadzib merupakan sumber dari keburukan: “Dan sesungguhnya kedustaan ​​itu membawa kepada keburukan, dan keburukan itu membawa ke neraka.” 

3. Siddiq merupakan ketenangan. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW: Dari Abu Haura ‘As-Sa’dy, aku berkata kepada Hasan bin Ali RA: “Apa yang kamu hafal dari hadits Rasulullah?” Beliau berkata: “Aku hafal hadits dari Rasulullah SAW:” Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kebenaran membawa pada ketenangan dan dusta itu membawa pada keraguan. “(HR Tirmidzi)

 

4. Siddiq merupakan perintah Rasulullah SAW. Hal ini dikatakan oleh Abu Sufyan ketika bertemu dengan raja Hiraklius: “Apa yang dia perintahkan pada kalian?” Abu Sufyan menjawab: “Untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, meninggalkan semua ajaran nenek moyang, mendirikan shalat, bersikap siddiq ( jujur ​​/ benar), bersopan santun dan menyambung tali persaudaraan. “

 

5. Dengan siddiq seseorang akan mendapatkan pahala sesuatu yang dicita-citakannya, meskipun ia belum atau tidak dapat melakukan sesuatu yang menjadi cita-citanya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang meminta kesyahidan kepada Allah SWT dengan siddiq (sebenarnya), maka Allah akan menempatkannya pada posisi syuhada ‘, meskipun ia meninggal di tempat tidurnya.”

6. Keutamaan dan kemuliaan sifat benar itu diperkuat dan dijelaskan dalam firman Allah:

وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَٰذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا [٣٣:٢٢]

“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, “inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka, kecuali iman dan kedudukan”. (Q.S. al-Ahzab : 22) [4]

Begitu juga Allah menjanjikan pahala bagi orang-orang yang benar dan mengancam orang yang berdusta dengan siksaan. Seperti yang telah difirmankan dalam ayat-ayat berikut :

 

لِّيَسْأَلَ الصَّادِقِينَ عَن صِدْقِهِمْ وَأَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا أَلِيمًا [٣٣:٨]

“Agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih.” (Q.S. Al-Ahzab : 8)[5]


لِّيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِن شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا [٣٣:٢٤]

“Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang-orang munafik jika dikehendaki-Nya atau menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang.” (Q.S. Al-Ahzab : 24)[6]

 

 

7. Siddiq akan membawa seseorang pada keberkahan dari Allah SWT.Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: “Penjual dan pembeli keduanya bebas belum terikat selagi mereka belum berpisah. Maka jika benar dan jelas kedua, diberkahi jual beli itu. Tetapi jika menyembunyikan dan berdusta maka terhapuslah berkah jual beli tersebut.”

 

Para shiddiqin akan mendapatkan ampunan dan pahala yang besar.Dalam Al-Qur’an, Allah SWT memuji orang yang siddiq, baik dari kaum mukminin maupun mukminat. Bahkan Allah SWT menjanjikan kepada mereka mendapatkan ampunan dan pahala yang besar melalui firmanNya: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar , laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. “(QS Al-Ahzab: 35)

 

  1. KEDUDUKAN ORANG YANG MEMILIKI SIFAT SIDDIQ

 

Selain mendapat ampunan dan pahala yang besar, para shiddiqin juga akan mendapat tempat yang tinggi di sisi Allah SWT. Mereka akan disatukan bersama para nabi dan orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Allah berfirman: “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”(QS An-Nisa ‘: 69)

 

 

  1. CIRI-CIRI ORANG YANG BERSIFAT SIDDIQ

 

Orang-orang yang siddiq memiliki beberapa fitur, di antara fitur-fitur mereka yang Allah gambarkan dalam Al-Quran adalah:

 

1. Teguh pendiriannya terhadap apa yang dicita-citakan (diyakininya). Firman Allah SWT: “Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati (membenarkan) apa yang telah mereka janjikan kepada Allah,  maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya). “ (QS Al-Ahzab: 23) 

2. Tidak ragu untuk berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. “(QS Al-Hujurat: 15)

 

3. Memiliki keimanan kepada Allah SWT, Rasulullah SAW, bersedekah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji dan sabar. FirmanNya: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan , penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. “(QS Al-Baqarah: 177)

 

4. Memiliki komitmen yang tinggi terhadap Islam. Firman Allah SWT: “… barang siapa yang berpegang teguh dengan agama Allah, maka sungguh ia telah mendapatkan hidayah menuju jalan yang lurus …” (QS Ali Imran: 101).

 

  1. CARA MENCAPAI SIFAT SIDIQ

               Setelah kita melihat urgensitas sifat sidiq ini, maka setidaknya muncul dalam hati kita keinginan untuk melengkapi diri dengan sifat ini. Karena sifat ini benar-benar merupakan intisari dari kebaikan. Dan sifat ini pulalah yang dimiliki oleh sahabat yang paling dicintai Rasulullah SAW yaitu Abu Bakar Asidiq. Penulis melihat ada beberapa cara yang semoga dapat membantu menumbuhkan sifat ini:

    1. Senantiasa memperbaharui keimanan dan keyakinan kita (baca; ketsiqahan) kepada Allah SWT. Karena pondasi dari sifat sidiq ini adalah kuatnya keyakinan kepada Allah.

    2. Melatih diri untuk bersikap jujur diamana saja dan kapan saja serta kepada siapa saja. Karena kejujuran merupakan karakter mendasar sifat sidiq.

    3. Melatih diri untuk senantiasa membenarkan sesuatu yang datang dari Allah (Al-Qur’an dan sunnah) , meskipun hal tersebut terkesan bertentangan dengan rasio. Karena kebenaran mutlak hanyalah milik Allah. Sementara ijtihad manusia masih sangat memungkinkan adanya kesalahan.

    4. Senantiasa melatih diri untuk komitmen dengan Islam dalam segala aspeknya; aqidah, ibadah, akhlaq dan syari’ah. Karena salah satu ciri siddiqin adalah memiliki komitmen yang tinggi terhadap Islam:

    وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
    “…barang siapa yang berpegang teguh dengan agama Allah, maka sungguh dia telah mendapatkan hidayah menuju jalan yang lurus…”

    5. Sering mentadaburi ayat-ayat Allah, hadits-hadits Rasulullah SAW mengenai sifat sidiq. Karena mentadaburi ayat dan hadits juga merupakan cara tersendiri yang sangat membekas dalam jiwa manusia.

    6. Senantiasa membuka-buka lembaran-lembaran sejarah kehidupan salafu shaleh, terutama pada sikap-sikap mereka yang menunjukkan kesiddiqannya.

    7. Memperbanyak dzikir dan amalan-amalan sunnah. Karena dengan hal-hal tersebut akan menjadikan hati tenang dan tentram. Hati yang seperti ini akan mudah dihiasi sifat sidiq.

 

  1. RUANG LINGKUP SIFAT SIQID

Imam Ghazali menyebutkan ada 6 jenis sidik yang perlu direalisasikan dalam diri seorang mu’min agar menjadi mu’min yang sebenarnya.(Ihya Vol4. :375 – 380).

A. Sidqul Lisan (Benar dalam ucapan). Ucapan manusia adalah ekspresi yang ada dihatinya. Hati yang baik melahirkan ucapan yang baik. Sebaliknya hati yang buruk mengeluarkan ucapan yang buruk. Perbaikan ucapan harus dimulai dari perbaikan hati. Apabila hati baik, ucapan yang keluar menjadi baik dan selanjutnya akan mengikuti oleh prilaku yang baik. Dan prilaku yang baik akan dibalas dengan ampunan dosa yang dapat membersihkan diri manusia.
“Hai orang-orang yang beriman bertaubatah kepada Allah dan berkatalah yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amal perbuatan dan mengampuni dosa-dosamu(QS.33: )

B. Sidqul Niyah dan Irodah (Benar dalam keyakinan dan motivasi). Nilai perbuatan seseorang tergantung motivasi dan niatnya. Manakala perbuatan yang baik dilandasi denga niat yang baik, mangharap ridho Allah maka nilai perbuatan itu menjadi baik, sebaliknya manakala motivasi dan niatnya buruk sekaligus tampak lahiriahnya kelihatan baik, seperti apa-apa yang kadang-kadang dilakuakan oleh orang munafik.
Nabi bersabda : “sesungguhnya amal perbuatan manusia tergantung niatnya. Dan amal setiap orang mendapatkan balasan perbuatan yang tergantung niatnya.”

C. Sidqul Wafa (Benar dalam Kesetiaan). Untuk melakukan perbuatan yang baik dan benar tidak cukup dengan adanya keinginan dan motivasi, tetapi harus ditopang dengan tekad yang kuat untuk merealisasikan perbuatan tersebut banyak rintangan, tantangan dan kedalanya.
Suksesnya Abu Bakar dalam memerangi orang-orang yang murtad, tidak mau membayar zakat, karena tekadnya yang luar biasa untuk memerangi orang-orang murtad sekalipun sendirian tanpa dukungan sahabat-sahabatnya yang lain. Tekad inilah yang kemudian mendapatkan dukungan dan simpati Umar dan seluruh sahabat yang lain.

D.Sidqul Wafa (Benar dalam kesetiaan) Wafa (setia) adalah sifat ulul albab, orang-orang suci, orang-orang mu’min dan mutaqin yang dipuji didalam Al Qur’an. Ulul albab adalah “orang-orang yang setia memenuhi janjinya kepada Allah dan tidak merusak janji” (13 : 20) orang-orang Abror (suci) adalah yang setia menunaikan nazarnya dan takut akan sesuatu hari (kiamat) yang azabnya tersebar dimana-mana (76:7)

E. Sidqul Amal (Benar dalam Perbuatan) : Risalah manusia adalah untuk beramal, berbuat yang shaleh dan positif. “Dan katakanlah : “Bekerjalah kamu maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mu’min akan melihat amal perbuatannya.(9 : 105). Amal perbuatan yang benar yang akan menjadi bekal yang membahagiakan manusia kelak di akhirat.” Barang siapa yang lebih berat timabangan amal baiknya maka dia akan mendapatkan kehidupan yang menyenangkan” (101 :7)

F. Sidik dalam merealisir tingkatan-tingkatan terpuji. Mu’min sejati adalah yang dapat mengembangkan seluruh pontensi dan sifat-sifatnya. Seperti yang digamabrkan dalam surat Attaubah (9: 111-112) “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah lalu mereka membunuh atau terbunuh. Sesungguhnya itu telah menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain dari pada Allah ? maka bergembiralah dengan jual beli yang elahkamu lakukan. Dan itulah kemenangan yang besar . “mereka itulah orang-orang yang bertaubat, yang beribadah, yangmemuji Allah, yang melawat untuk mencari ilmu pengetahuan atau berjihad, yang ruku, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihar hukum hukum Allah dan gembiralah orang-orang mu’min itu.

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatanya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang khusu, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memlihara kehormatan, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Alla. Allah telah menyediakan untuk menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.(33:35).

  1. 1.    PENUTUP

 

  1. A.   KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa sifat Siddiq merupakan salah satu sifat dari Nabi Muhammad SAW yang harus kita contoh. Tidak mudah dalam mencapai sifat siddiq. Mudah untuk berucap tetapi susah untuk kita parktikan. Maka dari itu mulailah dari sifat terpuji yang paling kecil.

 

  1. B.   SARAN

Agar guru dapat mengajarkan dan membimbing siswa dan siswinya untuk dapat bersifat dan bersikap terpuji.

2 thoughts on “MAKALAH AGAMA ISLAM SIDIQ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s